Masjid Agung Banten (Lama) : Saksi Awal Syiar Islam di Jawa

Masjid Banten
Masjid Banten

Setelah menyusuri Jl. Raya Banten sepanjang kurang lebih 8 km kami pun menemui papan bertuliskan lokasi situs purbakala kesultanan Banten. Rasa lapar yang sebelum memberontak sedikit mereda karena gembiranya hati karena sampai juga di Banten Lama. Bangunan pertama yang kami jumpai adalah Keraton Surosowan ( kami tahu karena di situ ada papan namanya).

Tujuan pertama kali adalah Masjid Agung. Saat itu di jalan menuju Masjid Agung Banten terdapat papan tulisan yang berbunyi “ selain undangan dilarang masuk “, namun kami cuek saja menerobos, padahal ada petugas di samping papan itu. Kami terus saja menuju arah terlihatnya menara masjid yang menjadi ciri khas Masjid Agung Banten.

Kami sedikit bingung mencari tempat parkir resmi. Karena kami belum melihat ada tulisan tempat parkir. Setelah keliling kami pun menemui tempat parkir. Tempat parkir itu berada di tengah – tengah kios di depan Masjid Agung.

Saat itu, Masjid Agung sedang ada acara ijab Kabul pernikahan ( padahal sepanjang perjalanan tanggerang – serang beberapa kali kami menemui janur kuning, benar – benar lagi musim kawin ). Dari perkiraanku ini pasti pernikahan ‘bangsawan’ banten. Karena banyak mobil pejabat di sekitar masjid. Ketika kami masuk, petugas masjid yang duduk di depan kotak amal menepuk – nepuk kotak amal. Aku merasa aneh saja, baru kali ini aku datang di masjid ada “kelakuan” seperti itu, kurang etis menurutku. Namun aku harus memaklumi, beda daerah beda budaya.

Komplek Pemakaman
Komplek Pemakaman

Tidak seperti yang kami kira, Masjid yang dibangun saat pemerintahan Sultan Maulana Hasanudin ini tidak begitu besar, lebih kecil dari Masjid Agung Surakarta atau Yogyakarta. Di sebelah utara ( berjarak 10 langkah dari Masjid) terdapat komplek pemakaman yang ramai oleh peziarah. Posisi pemakaman ini beda juga dengan posisi komplek pemakaman pada Masjid kesultanan di Jawa yang selalu berada pada sisi barat masjid dan tidak terlihat dari masjid, dan merupakan bagian terpisah dari masjid.

Pintu Masjid
Pintu Masjid

Secara garis besar Masjid berusia lebih dari 5 abad ini berasitektur sebagaimana masjid di Jawa. Yang unik adalah atapnya yang bertumpuk lima, beda dengan masjid jawa yang hanya bertumpuk tiga. Hal ini dimungkin karena pengaruh arsitektur cina, dimana salah satu arsitektur masjid adalah Tjek Ban Tjut (Pangeran Adiguna). Sebenarnya dua atap teratas terlalu kecil untuk disebut atap, jadi terkesan hanya sebuah hiasan atau “mahkota” bangunan saja. Atap lima tumpuk itu mempunyai makna 5 Rukun Islam. Pintu masuk Masjid di sisi depan berjumlah enam yang berarti Rukun Iman. Enam pintu itu dibuat pendek dengan maksud, setiap jamaah haruslah merendahkan diri ke hadapan Allah SWT dan menanggalkan segala bentuk keangkuhan.

Di sebelah selatan terdapat juga makam sultan – sultan dan museum benda – benda dan senjata kuno kesultanan Banten. Pintu masuk menuju ruangan dalam pendek dan sempit. Di depan masjid terdapat empat kolam yang dulunya untuk membersihkan diri sebelum memasuki masjid.   Kalo di masjid tua Jawa biasa tidak berupa kolam tapi parit kecil yang mengelilingi masjid. Tempat wudlu nya masih campur antara wanita dan pria. Saat waktu sholat Dhuhur, terasa sangat crowded banget, apalagi ketika memasuki ruangan dalam Masjid, kita mesti berhati – hati agar tidak bersentuhan karena memang pintu masuk untuk pria dan wanita tidak dibedakan. Kondisi tempat wudlu yang semrawut bertambah semrawut karena juga digunakan anak daerah itu untuk main – main air, satu lagi beberapa orang menggunakan tempat wudlu dengan sandal.

Bangunan yang menjadi ikon Masjid Agung Banten adalah menaranya. Sebelum datang, kami membayangkan kalau menara masjid begitu tinggi. Ternyata tidak telalu tinggi, sekitar 30 meter dengan diameter ± 10 meter. Kondisi menara ini terlihat terjaga dan terawat. Menara beranak tangga 83 buah ini dirancang oleh Hendick Lucasz Cardeel, arsitektur eropa  yang masuk islam dan menikah dengan putri sultan. Hendick Lucasz Cardeel juga menambahkan pavilion di sisi selatan masjid yang berguna untuk kegiatan kajian keagamaan, namun kami tidak sempat mengunjunginya.

Masjid Agung Banten merupakan “monument” bersejarah penyebaran Islam di Jawa. Juga merupakan tempat favorit ziarah umat Islam di Jawa. Sayang pengelolaan kios – kios di depannya sangat kurang. Kondisi kebersihannya pun perlu lebih diperhatikan lagi. Bila pengelolaan lebih baik, Masjid Agung Banten ini akan menjadi pariwisata unggulan propinsi Banten.

Catt :

  1. Masjid Banten di bangun atas perintah Sunan Gunung Jati kepada putranya Sultan Maulana Hasanudin
  2. Salah satu arsitekt masjid ini adalah Raden Sepat ( arsitek Masjid Demak dan Masjid Cirebon )
  3. Ada pendapat yang menyatakan  Hendick Lucasz Cardeel ( Pangeran Wiraguna) adalah orang Belanda, pendapat lain mengatakan orang Portugis
  4. Makam Sultan Maulana Hasanudin dan Sultan Ageng Tirtayasa berada pada komplek pemakaman sebelah utara.
  5. Jumlah 24 tiang masjid menggambarkan waktu 24 jam sehari
  6. Masjid Agung Banten merupakan salah satu Masjid tertua di Jawa
  7. Dari Terminal Pakupatan, naik angkot arah Banten Lama

One thought on “Masjid Agung Banten (Lama) : Saksi Awal Syiar Islam di Jawa

  • 28 August 2010 at 10:24 AM
    Permalink

    saya insya allah mo ziarah kesana, klo boleh tahu di manakah alamat tempatnya
    saya ada di daerah tangerang, cileduk..

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *