Guntur , Pendakian 4 Puncak 2 Jalur (1)

Kegalauan berkecamuk dalam dada, mendaki atau tidak ?  Tidak adanya sinyal saat ke Curug Cibeureum bulan April kemarin membuatku mempertimbangkan ajakan Ardi untuk mendaki Guntur di bulan Mei. Tidak dipungkiri jika keinginan mendaki masih ada , meski keraguan akan stamina sedikit mengganggu. Namun beban untuk selalu memonitor operasional pelayanan 24 jam 7 hari membuatku harus berada pada zona dimana internet dan sinyal seluler dapat diakses.

Ardi meyakinkanku, sinyal pasti ada karena saat mendaki Cikuray yang tingginya di atas Guntur dia masih bisa mengakses data seluler. Mempertimbangkan itu, aku pun menghubungi rekan kantor untuk mem back-up ku dalam monitoring operasional selama aku dalam pendakian. Sebenarnya selama ini aku tidak sendiri dalam monitoring, hanya saja gelisah saja melepas total monitoring meski hanya weekend saja. Workaholic ? ……. Mungkin atau cuman takut ga bisa dihubungi Bos hehehe…………..

………………………………………

19 Mei 2017

21.00 WIB kami ( Aku dan Ardi ) berangkat menuju Bandung , rumah Mantos. Pendakian ini seperti “reuni” pendakian Papandayan awal tahun 2015, saat itu kita juga hanya ber-tiga. Perjalanan yang diwarnai kemacetan itu akhirnya selesai pada jam 24.00. Selepas bual sana bual sini , kami pun istirahat. Apalagi malam itu aku masuk angin…..

20 Mei 2017

Belum jelas pendakian Guntur ini pake acara nge-camp atau tidak. Bila stamina cukup dan waktu memungkinkan , rencananya mau langsung saja.

Sekitar 6.30 WIB kami sudah di depan PLN Area Garut menyantap bubur ayam sambil menunggu Ihsan. Saat makan bubur terlintas untuk membungkus nasi kuning untuk makan siang. Terkesan malas tapi efisien  . Ihsan sudah tiba.  Sebelum menuju ke titik pendakian, kami terlebih dahulu diantar ke kantor Ihsan untuk “ritual pagi”

———————-

Kami dianter Ihsan menuju titik awal pendakian jalur Citiis, sekitar 10 menit dari gerbang desa menggunakan mobil. Mobil  berhenti di tempat penggilingan batu dan kami pun memulai pendakian. Saat itu beberapa pendaki muda dalam satu kelompok juga terlihat. Kelompok kami bisa dikatakan beranggotakan paling sedikit, maklum sudah susah mengumpulkan anggota Engineear.

Mulai ….

08.14 WIB, kami memunggungi terik matahari yang masih ramah. Terlihat di depan jalur pendakian menuju puncak di lereng Guntur. Lurus tanpa belokan dengan elevasi bisa mencapai 45­o . Sejenak banyangan Semeru yang tandus melintas dalam benak. Tidak heran jika ada yang menyebut Guntur adalah Semeru Kecil.

Dataran Terbuka

Hingga Pos 2 tidak ada tanjakan yang berarti. Tanjakan terjal dan curam dimulai setelah Curug Citiis. Hanya kurang dari 15 menit kami sudah jalur terbuka dengan elevasi cukup datar. Pukul 09.43, kita sampai di Pos 3, sebuah camp ground. Hanya 1,5 jam perjalanan, lumayan buat kami (khususnya Mantos dan Aku yang tidak pernah olah raga, dan terakhir mendaki hingga puncak 2 tahun lalu.

Menunjuk Puncak Pertama, Puncak Guntur

Hanya 30 menitan  kami istirahat, 10.15 kami beranjak. Melihat Puncak 1 ada di depan mata dengan elevasi curam kita me-estimasi waktu tempuh 2 jam sudah sampai. Rencana nya makan siang di puncak , menikmati sunset lalu pulang. Persis saat pendakian Papandayan 2 tahun silam.

Curam …

Ardi sempat usul tas ditinggal karena berat bila mendaki dengan membawa tas di jalur berelevasi curam dan rentan. Tentu saja aku dan Mantos malah mengejeknya, masa sih umur masih dibawah 25 tahun ga kuat. Hehehehe… Mau ga mau dia pun tertantang. Memang harus begitu , sebagai senior kita harus keras membina yunior kita, demi kelanggengan negeri ini ( serius amat …)

Ternyata memang benar , jalur ini berat. Rentan dan hampir tidak ada pegangan kecuali rumput. Setiap memijakkan kaki turun kembali, kadang terpeleset. Hampir sama dengan jalur puncak Merapi dan Semeru. Tidak ada landai sedikitpun.

Kabut mulai naik membawa butiran air, membasuh  wajah lelah kami. Setelah meninggal jejak dingin di tulang  , kabut menutup puncak Guntur. Jalur ini serasa tanpa ujung. Keluhan mulai meracun dalam eraman pertanyaan yang tertahan.

45 derajat

Sudah 2,5 jam perjalanan belum juga sampai di puncak. Kami putuskan untuk beristirahat dan makan siang. Kami cari cekungan di luar jalur pendakian untuk istirahat agar tidak mengganggu para pendaki yang turun dari puncak. Terlihat kebanyakan dari mereka tidak membawa carrier. Lelah lapar begitu terasa, maklum tadi hanya makan bubur. Begitu menemukan dataran yang cukup nyaman kami pun menyantap nasi kuning dan kemudian bobo siang ……………………

14.02 WIB, ku bangunin Ardi dan Mantos untuk melanjutkan perjalanan. Dan ternyata hanya 3 menit kita sampai ujung. Sayang kabut masih  menyelimuti. Kami coba mencari patok puncak. Aku bertanya pada seorang berseragam Pramuka, dia menunjuk ke arah utara. Tapi koq ketemu – ketemu ya, malahan kami melihat sosok yang lebih tinggi.

* beberapa waktu kemudian kami pun tahu , punggungan pertama ini adalah Puncak 1, alias Puncak Guntur

Menuju Puncak Kedua, Puncak Kabuyutan

Mencari Puncak

Kami terus menelusuri jalan setapak yang menanjak. Tidak terlalu curam tapi cukup membuat terus bertanya – Tanya , mana sih puncaknya ?. Alhamdulillah hanya sekitar setengah jam kami sudah sampai di punggungan. Aku berteriak ke Ardi apakah ada patok penanda. Ardi memang berjalan duluan, aku dan Mantos di belakang. “ Ada ! “ Hehehe………… sampai juga di 14.40.

Puncak 2

Dalam kegembiraan melihat patok, muncul keraguan. Ini patok penanda puncak atau bukan ? Patok ini sama sekali tidak ada kata puncak, namun  sesuai dengan foto – foto yang diposting di blog – blog pendakian. Itu pun penanda Puncak 2 ………..

Mata kami menerawang seiring kabut beranjak. Hati kami seketika mencelos begitu melihat ada sosok yang lebih tinggi di seberang kami berdiri. Sebenarnya yang mana puncak gunung Guntur ? Tapi entah kenapa , seakan ada panggilan abstrak, kami bertiga langsung saja berjalan ke arah puncak yang lebih tinggi itu.

Menuju Puncak 3, Puncak Parupuyan

Menuju ke puncak selanjutnya kami harus turun terlebuh dahulu. Tidak perlu waktu lama, meski kabut kembali membatasi jarak pandang. Dengan mengikuti raffia merah yang diikat di beberapa ranting kami pun sampai di puncak . Terlihat patok kayu penanda puncak. Akhirnya …..

Mengingat perjalanan jauh, kami memutuskan untuk turun gunung esok hari. Kabut masih saja menyelimuti sekitar puncak. Tidak ada pemandangan sama sekali, hanya aroma belerang sangat kuat. Beberapa tanah berwarna hijau karena belerang. Sementara kami simpulkan ini adalah puncak sebenarnya.

Puncak Parupuyan

Saat bercengkerama santai selepas sholat Ashar, kabut kembali beranjak. Matahari mulai terlihat mengantar senja. Kami pun terkejut untuk kesekian kali. Di seberang arah barat laut  terlihat samar tenda warna merah. Pelan dan pasti terlihatlah dataran yang lebih tinggi. Gunung ini ada berapa puncak ? ………….. Dengan tegas Mantos tidak mau mendaki Puncak 4, cukup di sini saja. Target kami yang hanya Puncak 1 dan bisa mencapai Puncak 3 sudah harus disyukuri, kata Mantos. Kebijakan palsu yang menutupi rasa lelah dan frustasi.

bersambung …………………

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *